Senin, 17 September 2012
Dalam kehidupan sehari – hari, kita sering melihat ada orang yang bekerja dengan jadwal (sif) sehingga waktu untuk keluarga menjadi berkurang. Sementara sebagian besar pasangan suami istri yang bahagia  mengatakan bahwa saat kebersamaan mereka dengan suami dan anak – anak merupakan saat yang menyenangkan dan membuat persahabatan mereka lebih hidup. Akan tetapi, waktu luang sulit didapatkan sekarang, terutama untuk pasangan suami istri yang bekerja dengan jadwal yang baku (sif).


Allohulaa ilaa haillaa huwalhayyulqoyyuum. Laa ta’khudzuhuu sinatuwwalaanauum.  Lahuumaa fissamaa waatiwamaa filardh. Man dzalladzii yasfa’u ‘indahuu illaa bi idznih.  Ya’lamumaa baina aidiihim wamaa kholfahum. Walaa yuhiithuuna bi syai-in min (dengung) ‘ilmihii illaa bi maasyaa-a. Wasi’akursiyyuhussamaa waatiwalardh. Walaa ya-udhuu hifzhuhumaa wahuwal ‘aliyyulazhiim.


Wis Seminggu neng Jepang Pak De karo Bu De akhire nemu restoran masakan Indonesia.
Pelayane Robot.
Robot teko nyedakki Pak De, terus ngomong :

“What is your nationality?”, robot takon.
“Indonesia” jare Pak De.
“Selamat datang”, jare robot nganggo bahasa Indonesia.
“Apa bahasa suku Anda?”, robot takon meneh.

Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung.

Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan.

Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut.


Di sudut jalan sebuah kota, saat waktu menunjuk pukul 16.25 waktu setempat, duduk seorang nenek berusia kira-kira 60 tahun dengan mengenakan pakaian lusuh dengan rambut putihnya sedang menyodorkan sebuah baskom ukuran sedang berwarna biru kepada pengendara yang berhenti di lampu merah. Tak hentinya ia menyodorkan mangkok kecilnya kepada para pengendara, dan receh demi receh ia kumpulkan pada hari itu.
Tak lebih dari satu menit, lampu lalu lintas itu memancarakan lampu hijau, dan nenek itu pun kembali ke sudut jalan kemudian duduk sambil menunggu lampu merah kembali menghentikan para pengendara.

your TIME



Translate

Hot Posting

visitors

Followers