Selasa, 07 Agustus 2012

Di Indonesia kita mengenal penyakit diabetes sebagai penyakit gula atau kencing manis. Diabetes merupakan penyakit kronik yang timbul karena terlalu banyak glukosa (gula) dalam darah. Penyakit ini termasuk ke dalam penyakit degeneratif yang menjadi penyebab utama kematian di Negara maju dan Negara berkembang. Penyakit ini terkait dengan perubahan perilaku gaya hidup, pola makan, dan aktivitas fisik.
Salah satu penyebabnya adalah konsumsi zat gizi (terutama karbohidrat dan lemak) yang tidak seimbang atau berlebihan. Bila dibiarkan lama, kelebihan ini menyebabkan insulin tidak akan mampu lagi melaksanakan tugasnya untuk menjaga kadar gula darah pada tahap normal. Penurunan aktivitas insulin sering terjadi pada orang gemuk, sehingga sebagian glukosa darah tidak dapat masuk ke jaringan tubuh. Keadaan ini mengakibatkan glukosa darah tetap tinggi.
Aktivitas fisik yang rendah menjadikan tubuh menyimpan energi dalam bentuk lemak, sehingga mengakibatkan obesitas. Studi yang dilakukan di Framingham,AS, menunjukkan bahwa kenaikan bobot badan 10% pada pria menyebabkan naiknya tekanan darah sebesar 6,6 mm Hg, naiknya gula darah 2 mg/dl, dan naiknya kadar kolesterol dalam darah 11 mg/dl.
Diabetes pada orang dewasa diakibatkan oleh rendahnya insulin yang diproduksi oleh kelenjar pancreas. Sedangkan diabetes pada anak seringkali disebabkan oleh kegagalan pankreas. Diabetes lebih mudah menyerang penderita obesitas. Selain itu, diabetes juga bisa disebabkan oleh faktor gen atau keturunan.
 Pengaturan diet menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi resiko menderita diabetes mellitus dan obesitas. Memilih pangan (karbohidrat) yang tidak menaikkan kadar gula darah secara drastis merupakan salah satu upaya untuk menjaga kadar gula darah pada tahap normal. Dari hal ini kita bisa menerapkan konsep indeks glikemik.
Konsep indeks glikemik merupakan pendekatan untuk memilih pangan yang baik, khususnya  karbohidrat. Konsep ini menekankan pada pentingnya mengenal karbohidrat berdasarkan kecepatan menaikkan kadar gula darah. Karbohidrat yang dicerna dan diserap dengan lambat, menaikkan kadar gula secara perlahan, dikenal dengan istilah lows-release carbohydrates.(Rimbawan Albiner Siagian,2004).
 Indeks glikemik (IG) pangan adalah tingkatan pangan menurut efeknya terhadap kadar gula darah. Pangan yang menaikkan kadar gula darah dengan cepat memiliki IG tinggi. Sebaliknya, pangan yang menaikkan kadar gula darah dengan lambat memiliki IG rendah. (Rimbawan Albiner Siagian,2004).
Indeks glikemik yang terkandung dalam pangan berbeda-beda. Makanan, walau terbuat dari bahan yang sama belum tentu memiliki indeks glikemik yang sama. Sebagai contoh kentang, walaupun sama-sama dari kentang namun kentang goreng dan kentang bakar memiliki indeks glikemik yang berbeda. Kentang goreng memiliki IG lebih rendah (IG=54) daripada kentang bakar (IG=85). Namun, hal ini tidak selalu sama. Ada 3 faktor utama penyebab perbedaan IG pada pangan yang sama, yaitu varietas sumber pangan, pengolahan (penggilingan, pemanasan) dan pemilihan pangan acuan (roti atau glukosa).
Kategori pangan menurut indeks glikemiks dibagi menjadi tiga. Pertama indeks glikemik rendah, mempunyai rentang indeks glikemik kurang dari 55. Kedua, indeks glikemik sedang, mempunyai rentang indeks glikemik 55-70. Ketiga, IG tinggi mempunyai rentang indeks glikemik lebih dari 70. Kategori ini menggunakan indeks glikemik glukosa murni (100) sebagai acuannya. Indeks glikemik yang terkandung dalam pangan berbeda untuk setiap jenisnya. (Rimbawan Albiner Siagian,2004).
Beberapa faktor yang mempengaruhi IG pangan adalah cara pengolahan, perbandingan amilosa dengan amilopektin, tingkat keasaman dan daya osmotik, kadar serat, kadar lemak, dan protein, serta kadar anti gizi pangan.
Pada proses pengolahan pangan, serelia yang ditumbuk memiliki IG lebih rendah dibanding dengan serelia yang digiling. Hal ini disebabkan karena, proses penggilingan menjadikan struktur halus sehingga mudah dicerna dan diserap, sedangkan proses penumbukan, pangan lebih lambat dicerna dan diserap.
Dalam pangan terdapat dua jenis pati, yaitu amilosa dan amilopektin. Penelitian terhadap pangan yang memiliki kadar amilosa dan amilopektin berbeda menunjukan bahwa kadar gula darah dan respon insulin lebih rendah setelah mengonsumsi pangan berkadar amilosa tinggi daripada pangan berkadar amilopektin tinggi (Miller, dkk., 1992;Behall, dkk, 1988.)
Tingkat keasaman dan daya osmotik juga menjadi faktor yang berpengaruh dalam IG pangan. Makin tinggi keasaman dan kekuatan osmotik buah, makin rendah IG-nya. Ini diketahui dari beberapa buah yang memiliki IG rendah seperti ceri (IG=22) berbeda dengan semangka yang mempunyai IG relatif tinggi (IG=72).
Kadar serat dan kadar lemak juga mempengaruhi IG pangan. Pengaruh serat pada IG pangan tergantung pada jenis seratnya. Bila masih utuh, serat dapat bertindak sebagai penghambat fisik pada pencernaan. Akibatnya, IG cenderung lebih rendah (Miller, dkk.1996). Pangan berkadar lemak tinggi cenderung mempunyai IG lebih rendah daripada pangan berkadar lemak rendah. Namun,  pangan berkadar lemak tinggi harus dikonsumsi secara bijaksana.


Teknologi Pangan dan Gizi
VEDCA Cianjur

2 komentar:

Unknown mengatakan...

info yg bermanfaat,,,terima kasih....

Mukena mengatakan...

terima kasih infonya gan,,,

your TIME



Translate

Hot Posting

visitors

Followers